header image
 

NGGRANTES FOR DUMMIES (Komplit)

NGGRANTES FOR DUMMIES bagian pertama
Apa lagi yang bisa kau harapkan saat kau gagal mendapatkan cintamu

Dua minggu pertama bisa terasa begitu berat, dan mungkin akan seperti ini:
(Sebuah kronologi sederhana tentang hal-hal apa yang mungkin terjadi padamu. Tulisan ini dibuat 80% berdasar pengalaman pribadi, 10% berdasar observasi lapangan, dan 10% diambil dari perjanjian lama)

I. Minggu Pertama

Hari 1 (Shock): Menghabiskan hampir 24 jam harimu dengan melamun, selama yang kau bisa pikirkan. Sulit tidur, lapar tapi sistem bawah sadarmu memaksa otakmu untuk menghentikan produksi serotonin guna menghapus nafsu makanmu dan membuatmu terus gelisah. Kamu akan sulit tidur. Kamu mencoba mengirim sms ke semua teman-teman terdekatmu, mereka akan mencoba mengatakan padamu bahwa semua akan baik-baik saja (dan pasti, tapi tidak sekarang, belum)

Hari 2 (Depresionista): Kamu akan menangis, terisak, menjerit, meraung, merengek-rengek seharian. Kamu menemukan berbagai variasi menangis, sampai akhirnya kesemuanya hanya terdengar seperti tawa yang mengejekmu.

Hari 3 (Lethargica): Aku menginginkanmu kembali, itulah yang terus terulang dipikiranmu. Namanya akan muncul dimana-mana. Memutuskan bahwa kamu akan berusaha lagi untuk mendapatkannya. Mencoba menghubunginya lewat telefon tapi akhirnya kamu ragu untuk menceritakan semua yang telah kamu alami. Akhirnya dia akan mengatakan sesuatu seperti; maap sekali ya, aku ingin kita bisa berteman.

Merasa menjadi seorang PECUNDANG (Pee-cun-dang!)

Idiot, bodoh, imbisil, konyol. Mencoba menangis tapi sulit sekali, otak kecilmu mulai kasihan pada kondisi fisikmu. Asetilkolin (Acetylcholine) mulai terbentuk untuk mencegah produksi air matamu.

Hari 4 (The KKK took My Baby Away): Mulai mencoba memperbaiki keseharianmu, makan, tapi hanya mi instan dan makanan-makanan bergizi buruk lainnya. Menyembunyikan semua hal yang berhubungan dengan dia. Fotonya, fotomu dengannya, dan apapun yang mengingatkanmu padanya; memasukkannya dalam lemari atau kolong tempat tidurmu.

Mengambil sebuah pisau dan megarahkannnya ke pergelangan tanganmu. Tapi pikiranmu berkata lain: menusuk kucing kesangannya, merusak mobilnya, mengirim Tomahawk ke rumahnya. Lalu akhirnya ingat bahwa bunuh diri hanya untuk pengecut dan kamu tak percaya sama sekali pada balas dendam.

Hari 5 (I used to be crazy about you, but now I’m just crazy): Kamu mulai mendengarkan lagu-lagu melankolis dan menyelami lirik-liriknya: The Cure, Cat Power, Bauhaus, Indigo Girl. Kamu dengan mudah dapat memahami liriknya saat pertama mendengarnya. Mulai nonton 2-3 film dalam sehari. Merokok sebanyak kau bisa, malas membereskan kamarmu, semua terasa begitu lambat dan berat.

Hari 6 (don’t leave me high. don’t leave me dry): Masih dengan musik-musik, kali ini kamu mulai tenggelam dalam shoegaze dan akhirnya melayang oleh ambient, tertidur dalam irama triphop dan downtempo. Kamu sadar bahwa menjadi seorang teman sangatlah sulit ketimbang menjadi seorang pemuja rahasia.

Mulai merasakan bahwa rasa sakit begitu nikmat, itu membuatmu merasakan hidup dan dapat merasakan “cinta”. Sadomasokis, mungkin itu istilah teknisnya.

Ekspektasimu melayang, tak hanya sebuah kisah simpel. Seorang cewek yang menyuapi roti sus pada cowoknya yang sedang maen time crisis saat menunggu film di 21. Hal-hal indah seperti pulang bareng sehabis kuliah, malem minggu, kencan makan malam. Kamu mulai mempertanyakan hubungan bernama pacaran, kamu mulai berpikir dalam soal cinta, kamu menyelami arti hidup.

Tapi semua itu hampir sia-sia. Karena bagaimanapun kamu SENDIRIAN…

tapi kamu tetap akan merasakan keindahan, mengawang, nelangsa.

Hari 7 (The Drugs Don’t Work): Nonton Film2 Skandinavia tentang cinta. Kamu akan menyadari bahwa semua orang itu sama. Tapi saat kamu jatuh cinta, kamu berpikir bahwa dia lebih baik dari semua orang dan sangat spesial. tapi semua itu hanyalah ilusi. Jadi orang yang jatuh cinta itu tak sadar, delusif…

Tapi akhirnya kamu pun merindukannya, depresi karna minimnya kontak fisik dan komunikasi

***

Saat matamu berkedut, MUNGKIN dia merindukanmu juga. Kamu telah mengatakan padanya dan setuju untuk sekedar berteman, tapi pasti kamu tak bisa mengendalikan gelora.

Mimpi pergi ke pusat semesta seperti yang selalu kamu inginkan, mengalami sebuah tur teleskop kolosal lewat teleskop terbesar di bumi. Tapi dia tak ada disampingmu untuk berbagi keceriaan malam itu. Mimpi yang berakhir bodoh…

Ingat setiap kejadian buruk pasti ada hikmahnya.

Kurang lebih begitulah minggu pertama anda, apakah minggu kedua akan lebih baik…

II. Minggu Kedua

Minggu-minggu lalu dengan diiringi lagu The Doors:The End. Kamu berpikir bahwa setiap hal pasti menemui akhir, lebih cepat lebih baik. Inilah saat tergelapmu. Berpikir bagaimana mudahnya dan tak akan menyakitkan jika kamu mati saat ini juga. Berimajinasi orang-orang dengan sekop dan cangkul menimbunmu dengan tanah hitam. Kamu mengerti kenapa beberapa orang menjadi Tuhan.

Tapi saat ini kamu berpikir keras, hal apa yang sebenarnya menyebabkan semua ini, apa yang sebenarnya ada dalam otakmu, apa yang membuat sistem solar plexus-mu labil.

Selamat telah survive di minggu pertamamu. Banyak orang yang tak sukses dalam permainan ini. Tegakkan badanmu. Pegang erat tanganmu. Kamu punya lembaran baru dan kesempatan untuk menghabiskan hari-harimu dan memaksimalkan semua potensi. Berhenti dari hal-hal yang merusak fisikmu. Kamulah yang terhebat, kamu harus mengerti bahwa dia bukanlah “the one”. Dia dari Jupiter kamu dari Merkurius, dia air dan kamu api, dia science dan kamu seni dan seleranya dalam film sungguh sucks!

Hari 8 (Sloth. Wrath. Gluttony. Greed. Envy. Lust. Pride): Kebetulan bertemu dengannya. Mengucapkan selamat hari valentine pada dia dan pacarnya tanpa maksud menyindir atau apapun. Kamu mengatakan bahwa kamu akan pergi ke pameran foto dan musik etnik, kamu berniat membeli tie-dye shirt (baju2 dengan warna-warni mencolok kepantai-pantaian dengan cat celup) dan kalung manik-manik. Sungguh menakjubkan karena kamu sama sekali tak berkeinginan menjadi Vanlentine-nya, cemburu pun tidak. Bahagia karena semua orang mendapatkan apa yang diinginkannya.

Sesampainya dirumah kamu bongkar isi lemarimu, kebetulan ada kaos pemberiannya. Akhirnya kamu bakar, karena musim hujan jadi agak lembap, lari ke gudang dan tambahkan minyak tanah. Kamu benar-benar menikmati warna-warni hijau, biru, indigo, merah, dan oranye.

Hari 9-10 (Undying Symphony and Beauty of Sadness): …

Hari 11 (Return of the living dead): Selamat datang di dunia nggrantes. Saatnya merayakannya dengan teman-temanmu senasib, saling bercerita dan membuat lelucon pada nasib kalian masing-masing. Bebas lirik kanan kiri, begitu menyenankan berkomentar pada setiap orang yang lewat dihadapanmu. Merasa berkuasa atas dirimu dan seluruh dunia.

Ambil secarik kertas dan dengan bangga menuliskan “There are good things and bad things in life. The trick is not necessarily to feel good all the time, but to feel good about how you’re feeling.”

Hari 12 (Versus Terminus): Musik yang mengalir dalam hidupmu jadi tak sentimental: the Violent Vemmes, Metallica jaman2 Kill Em All, Alice in Chain, Pantera. Bahkan dalam level akut kamu mulai memuja band-band brutal death metal macem suffocation, Cannibal Corpse, Disgorge. Terobsesi untuk menonton film-film splatter horror (tipe-tipe horor ladang jagung yang sadis & kejam). Kesemuanya bukan karena patah hati atau alasan lemah lainnya. Kamu tetap menikmati film-film drama dan hal-hal sentimental lainnya. Pikiranmu terbuka karena hatimu besar, kamu sadar sepenuhnya bukan sok metal atau sok goth (ini jika kamu di jalan yang benar)

Kesemuanya membuatmu menjadi orang yang terbuka, supel, dan menyenangkan.

Hari 13 (Bitter Sweet Symphony): Sendiri, kamu teringat lagi dengannya. Walau beberapa orang yang cukup menarik perhatianmu datang, namun masih terasa sulit untuk menggantinya dengan yang lain. Sendiri di kamar.

Hari 14 (Teenage Kick): Membuat karya seni dari apa yang kamu alami, hidup itu pendek seni itu panjang. ide-ide mengalir begitu saja, walau mungkin menurut orang-orang karyamu aneh dan sulit dimengerti. WHO THE FUCK CARES. kamu telah menemukan duniamu, teman-teman baikmu, dan bahasamu. Tersenyumlah, karena pada akhirnya semua begitu berarti

-Semua lirik dan judul lagu diambil tanpa izin-
All Rights Reserved * All Wrongs Reversed
Gentur Wicaksana, 2009

Bookmark and Share

Jesus

Hujan terus turun semenjak dia berangkat kerja. Dia bertemu Jesus di pojok pub, seperti biasa dia terlambat. Jesus telah lama duduk disitu, menunggunya. Tubuhnya tinggi semampai, tangan-tangannya yang panjang kecoklatan, jari-jarinya mencengkeram gelas. Dia bisa menebak dengan jelas jika Jesus belum tidur, mungkin selama berhari-hari. Dia terlihat seperti sebuah anomali, tersamarkan garis-garis tepiannya. Wujudnya bagai terderai, tipis sekaligus elegan.

”Hai,” sapanya. ”Apa itu?”

”Bloody Marry.” jawabnya. ”Double” Matanya terbuka dan terlintas senyum di ujung bibirnya saat sang gadis menarik sebuah kursi dihadapannya.

”Bagaimana mereka bisa memberikan semuanya dalam satu gelas itu?”

Jesus mengangkat bahunya, memperhatikan dia bebenah. Dia melepas scarfnya yang basah kehujanan, memperlihatkan sebuah leher yang tipis seperti kertas dari halaman-halaman buku yang jatuh perlahan ke bumi. Sang gadis mulai menua, dan dia sadar sepenuhnya. Jesus tak tampak bertambah tua satu haripun.  Hanya sorot matanya, terlihat lebih tua dari apapun yang gadis itu pernah lihat dia kota itu atau dimanapun ia pernah singgah.

Dia memperhatikan saat jesus meneguk minumannya. Tenggorokannya berkerut-kerut seperti seekor burung yang marah, naik dan turun.

“Bukankah itu konyol dan hina?” kata perempuan itu. “Minum sesuatu yang dinamai seperti nama ibumu?” Sembari menyilangkan kedua tangannya.

Jesus hanya menggeleng kecil. Dia tahu jika perempuan itu mengerti. “Bloody Mary, bukan Virgin Mary.” Jesus berkata. “Seumpama tidak ada alkohol di minuman ini, mungkin aku akan takut meminumnya. Oh, bukankah namamu juga Mary. Mungkin minuman ini dinamai Bloody Mary karna orang-orang sepertimu.”

“Mungkin.” Kata perempuan itu pelan. “ Tapi tetap saja terasa aneh melihatmu.”

“Bukankah biasa saja jika aku minum, atau terasa begitu aneh melihatku minum ini?” Dia melirik kearah gelas ditas meja,  kotor dan tercemar oleh bekas genggaman tangan orang-orang.

Perempuan itu hanya mengangkat bahunya.

Jesus pun tertawa, mengangangkat sebelah tangannya memanggil pelayan. ”Entah apa yang salah dengan orang-orang. Kalian minum darahku setiap minggu. Kalian makan jasadku. Aku mati untuk kalian, persetan. Sudah terlambat sekarang untuk merasa bersalah.” Dia tertawa lagi, rambutnya yang hitam tebal berombak bergoyang-goyang. Perempuan itu rela melakukan apapun untuk mendapatkan rambut indah seperti miliknya. Rambutnya yang sekarang begitu lurus dan membosankan, dia ingin sekali memotongnya tapi para pelanggan suka dengan rambutnya yang panjang.

“Yak, aku tahu.” Kata perempuan itu. Dia memesan Martini Apel, walau dia tahu Jesus pasti akan menertawainya. Dia suka minuman yang manis. Jesus memesan segelas Whiskey Sour. Perempuan itu terdiam, berpikir. Cukup lama, mengambil tegukan pertama dengan begitu tenang. Diujung tenggorokannnya terasa seperti rasa besi. Jesus Tersenyum padanya. Perempuan itu meraih ke ujung meja, menggenggam tangan Jesus.

~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~

Jum’at perempuan itu menemui Jesus di Hotel Woodbine. Jesus selalu disitu, menunggu kedatanganya seolah perempuan itu perempuan manapun dan dia adalah pria biasa manapun. Perempuan itu tak pernah minta Jesus untuk membayarnya. Jesus hanya ingin memeluknya.

“Kamu selalu suka pelacur, eh?” perempuan itu bertanya padanya, menguncang-guncang bahunya. Jesus tak pernah keberatan dia menyentuhnya seperti itu

Jesus mengangkat bahunya. “Ini sama sekali tak seperti yang kaubayangkan. Sepertinya aku tak bisa membedakan siapa yang pelacur dan siapa yang bukan seorang pelacur.” Jesus berhenti berucap sejenak untuk menyalakan rokoknya di api sebatang lilin kecil yang dia selalu nyalakan di samping tempat tidur. Perempuan itu sempat mendengar hembusan kecil sebelum akhirnya dia merasakan tiupan hangat napas Jesus di atas kulitnya. “Para pelacur adalah satu-satunya pihak yang sadar bahwa diri mereka adalah pendosa. Mereka seolah tak pernah merasa bagaimana mereka diperlakukan dan diperdosai. Aku sangat menghargainya. Bersahaja dan menghapus ke-Akuannya. Disuratkan bahwa orang-orang yang sabarlah yang akan mewarisi bumi seisinya, pasti mereka adalah para pelacur, aku selalu berpikiran begitu.”

“Apakah masih seperti itu?” tanya perempuan itu. “Maksudku, apakah kita telah mengetahuinya sekarang?”

“Aku tak Tahu, Mary” Kata Jesus. “Tahukah kamu?” sembari merengkuh punggung perempuan itu. Jesus bersandar ke dinding. Perempuan itu terbaring dilengannya, rambutnya terurai di dada dan perutnya. Dia telah keramas tadi pagi, walau dia tahu Jesus tak kan menyadari aroma dari sampo murahnya. Dia senang bisa selalu bersih untuknya. Di hari Jum’at, Jesuslah satu-satunya.

“Aku tak tahu” katanya. “Entah.”

Perempuan itu membaringkan kepalanya di dada Jesus, pipinya menyentuh perutnya. Kulitnya tak sehalus seperti di lukisan, tapi rusuk-rusuknya terlihat dari luar kaosnya seperti ruas-ruas xylophone. Bau tubuhnya seperti taman bunga dan kemenyan, mirip seperti kain-kain di gereja saat dia dibaptis. Dia menarik napas panjang, terasa mengirup bau lilin. Bau itu berputar-putar di rongga hidungnya dan berakhir di mulutnya. Dia dapat merasakan Jesus. Belum pernah terasa sedalam itu, menciumnya pun belum pernah.

“Berdosakah ini?” Tanyanya pelan.

“Apakah ini terasa seperti sebuah dosa?” Kata Jesus

Perempuan itu menggeleng. “Tidak” katanya. “Tak pernah sama sekali”

“Jadi aku tak perlu khawatir” Ucap Jesus.

“Sebetulnya namaku bukan Mary.” Katanya sejenak kemudia

Jesus tak menjawab apapun. Dia hanya menatap perempuan itu. Perempuan itu dapat merasakan ekspresinya menyentuh wajahnya seperti sayap kupu-kupu. Jesus mengangkat dagu perempuan itu, sedikit dorongan kebelakang dan perempuan itu menatap lurus kearahnya. Kedua mata Jesus terlihat hitam kelam berbinar. Di lukisan-lukisan, mereka selalu mewarnainya biru. Bila dibandingkan dengan dinding kusam dibelakangnya. Jesus terlihat seperti….entah apa, sebuah kata yang artinya tak pernah diajarkan pada perempuan itu.

Bookmark and Share

Too Much Mean Me

We both were there. We were both there. I was who I was there. When I was there I was who I was. We both were who we was there. We both were there. We both were who we were there. Who we were was who we were when we were there. When we were there we were not who we were when we were not there. Neither of us were. We were neither of us not. Not there. We were both. We were both not. Both of us were not. If you know what I mean. I don’t mean what you think. I don’t mean what you think I mean. Do you know what I think? I think what I mean. I mean what I say. I mean what I say I mean. What I say is what I mean. What I said is what I meant. What I meant to say. What I said I meant. I said what I meant. I meant what I said. When we were where I said we were. When we were where we both could be. Where we were was where we were. We were where we were. When we were there. When we were where we were when we were there we were who we were. We both were who we were when we were there. We both were what we were when we were there. We were both what we were. We were both what we were not. Do you know what I mean? You know what I mean. You never know what I mean. Do you ever know what I mean? What do I mean? Why was she mean? She was once mean. Where is she now? Is she anywhere now? She could be anywhere now. She could be nowhere now. Anywhere she is she could be. She could be anywhere where she is not. She is not where she once was. She once was where she is not. Where she once was we both were once. We both were not us. We were both. We were mean. Both of us were. Both of us were mean. Both of us were us. We were both us. Of both we were us. Both of us us. Both of us mean. Did I mean to be mean? I meant to be me. I meant me to be. I didn’t mean me. I wasn’t mean me. Mean wasn’t me. I’m saying too much. I mean it’s too much. I mean it too much. I’m meaning too much. Too much do I mean. Too much am I mean. Too much mean me. She doesn’t mean much. What much does she mean? Was she mean much? Mean much to me? She was much mean. Meant much to me. Don’t bother me now. Why bother me now? What bother is now? Now is not now. Now it is now. Now it is what. Not now is it now. Not now is it not. Now is what now? What is now now? Once more it is now. No bother it now. No bother to now. No bother once more. Once more is no bother. No bother is now. Do I bother to now? Never mind now. Now mind my brother. Go bother my brother. My brother will tell you. My brother will talk. Talk with my brother. My brother my bother. My brother’s no bother. My brother’s another. My brother the other. My brother another. My brother my other. Too many others. Remember the others? All those anothers? Another one other. One other other. I know another. I have another. I have a brother. I’m one with my brother. My only brother. My lonely brother. One lonely brother. One brother alone. A lone lonely brother. A lonely one only. One lonely, alone. Enough with all that. What’s up with all that? What’s up with all this? What is it, all this? Is that all this is? Is this all that is? This is all that. This is all that is. All that this is. All this is is that. That is all this is. What about that? What about this? What about us?

Bookmark and Share

Riddle

My First is singular at best
More plural is my Second
My Third is far the pluralest
So plural-plural, I protest
It scarcely can be reckoned!

My First is followed by a bird
My Second by believers
In magic art:  my simple Third
Follows, too often, hopes absurd
And plausible deceivers

My First to get at wisdom tries
A failure melancholy!
My Second men revered as wise
My Third from heights of wisdom flies
To depths of frantic folly

My First is ageing day by day
My Second’s age is ended
My Third enjoys an age, they say,
That never seems to fade away,
Through centuries extended

My Whole?  I need a poet’s pen
To paint her myriad phases
The monarch, and the slave, of men
A mountain-summit, and a den
Of dark and deadly mazes

A flashing light–a fleeting shade
Beginning, end, and middle
Of all that human art hath made
Or wit devised!  Go, seek HER aid,
If you would read my riddle!

Bookmark and Share

Embun

Dear everyone,

Iseng2 aaah, capek bgt abis lebaran banyak kerjaan sekalian curhat,
dan semoga bisa menjadi referensi bagi playlist kawan2 hahaha

Beberapa lagu bagus, baru dan lama, yang nyangkut di endas saya minggu ini

1. The Adams: Gelisah (V2.05, 2006)
Lurus & simpel ala The Adams, konservatif, tentang seseorang yang menunggu kabar dari kekasih hatinya yang tak kujung membalas pesannya. Hanya sekedar kabar baik yang ditunggunya…

2. SoKo: Take My Heart (Not Sokute EP, 2006)
Imut sekali, cinta cinta cinta

3. Teenage Death Star: I Kiss Your Sister in the Kitchen (Long Way to Nowhere, 2008)
Sekumpulan orang “eksis” akar rumput scene indie: Harapan Jaya, Pure Saturday, dan Fast Forward Records yang kondang itu; tetap memaksakan jika “rock n roll gak pernah salah”. Berantakan, fals, and bloody fuckin’ cool! Skill is dead, let’s rock!

4. Pelle Calberg: Because I am Worth It (The Lilac Time, 2008)
Bapak yang satu ini emang keren abis. Lagu yang indah, tentang mensyukuri hidup.

5. Everybody Loves Irene: Rindu (On Second Thought, I Might Wanna Change Some Things, 2008)
Walau masih terdengar seolah portishead wannabe, tapi tetep: trip-hop keren!

6. Uci Bing Slamet: Bukit Berbunga (Bukit Berbunga)
Romantis, lagu cinta jadul berbackground keindahan alam. Hahaha. Lagu favorit ibu saya.

7. Epica: Divine Conspiracy (The Divine Conspiracy, 2007)
Megah!

Sebuah rangkaian indah jeritan dan raungan strings dalam barisan orchestra dibalut deru double bass drum, power chord gitar, dan bass guitar berlari beriringan dikejar dentuman tambourine. Russian choir yang mantab, diselingi suara vokal cewek and death growl yg catchy abis

Sebuah masterpiece dan pencapaian besar dari band symphonic gothic metal Belanda ini.
Tentang suratan takdir, free will, waktu, potensi manusia, nafsu, dan cinta.

8. Anorexia Nervosa: The Drudenhaus Anthem (Drudenhaus, 2000)
Sebuah aplikasi sempurna dari teorema bernama symphonic black metal.

9. Sore: Freiman(Ports of Lima, 2008)

10. Annemarie: Bubblegum I See (Abc On TV, 2007)
Very cute twee pop! Band Bandung ni

11. Zeke and the Popo: Mighty Love (Space in the Headlines, 2008)

12. White Shoes and the Couple Company: Self Titled, 2005
satu album maksudnya, hekekeke, nostalgila. Inget pas waktu pertama kuliah di IP, abis SPP ada Miliventh Most acara ultah IP. Ada The Monophones ama WSATCC, huhuhu.

13. The Upstairs: Ku NoBAtKan JaDI FaNTaSI EP, 2008
Lumayan, EP gratis The Upstairs yang didistribusikan gratis oleh Yes No Wave Music Records www.yesnowave.com

14.The Sister of Mercy: Doctor Jeep (Vision Thing, 1990)
Rock 90an ala Lupus ato Catatan Si Boy.

15. A Fine Frenzy: Fever (Dan in Real Life OST, 2007)
Nyempil di album soundtrack yang digarap ama Sondre Lerche. Swing Jazz, sexy abis!

16. She and Him: Why Do You Let Me Stay Here? (Volume One, 2008)

17The Monophones: Embun (A Voyage to the Velvet Sun, 2007)
Nggrantes…

18. Naif: Johan dan Enny (Jangan Terlalu Naif, 2000)

19. Tiger Tiger: Premarin (11pm, 2008)
“So what do you think about that?
I hurt you many times, I can’t, I don’t understand.
So now, I don’t give a fuck.
So now, I don’t give a fuck that shit”

Hahaha, keren

Musik, suara vokal, n mbak vokalisnya imut semuwa

20. Tetty Kadi: Pulau Seribu (1966)

21. Janis Joplin: Maybe (Maybe, 1973)

22. Black Sabbath: Sabbath Bloody Sabbath (Sabbath Bloody Sabbath, 1973)

23. Led Zeppelin: Good Times Bad Times (Led Zeppelin I, 1969)

Wagh, gak terasa uda banyak bgt,
hehehe
Semoga bermanfaat

Fuck lagu2 Top 40!
Hahaha

Mohon maaf lahir dan bathin, met lebaran 1 Syawwal 1429 H

Bookmark and Share

Privatization of PT Kereta Api Indonesia: Government should not Sell It Only for Fund but for Sake of Public Interest

<!–
@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
–>

Privatization
of PT Kereta Api Indonesia

Government should not
Sell It Only for Fund but for Sake of Public Interest

As a developing country Indonesia really need good transportation
system and infrastructure to support our economy growth. However, our
infrastructure now is not capable enough to support all of the
economics activities: the distribution links, movements of worker,
logistic system for goods and services. Those activities are depends
on transportation system which is mainly use the road system. We need
good system to make economic activities more efficient.

Recently Indonesian government plan to make privatization on thirty
four BUMN (BUMN), The Minister of Economy stated that the
privatization will start soon on this year. Transportation is one of
the sectors that will be privatized; PT Dok Kodja Bahari, PT Dok &
Perkapalan Surabaya, PT Industri Kereta Api, and PT Dirgantara
Indonesia are the state company that will be privatized. There also
two companies that still being negotiated with investor, PT Garuda
Indonesia and Merpati Nusantara.

Indonesian Railways is one strategic sector that we can improve.
Train system can be effective alternate transportation for people
both for near and long distance. Train also can carry huge amount of
logistic in short time. Now we only have old train and railway system
that we heritage from colonial era, with the privatization of PT
Kereta Api Indonesia we can have a good railways system that can
support our economic activities. In other hand the privatization of
PT Kereta Api Indonesia got many pros and cons from our people, many
people are disagree with the privatization since they thought some
sector that effect many people’s life should handle by the
government. They also thought that privatization and outsourcing
system will hurt our economy. However, in my opinion the
privatization for PT KAI must done to improve our railway
transportation, but government have to make clear regulations and
dominant control towards PT KAI.

With having good distribution and logistic system we could reduce
cost and help our economy. Moreover, with train we can create good
public transportation for all part of society. We can help people in
doing their activities and mobile so this will increase their
productivity and reduce their expense. Good public transportation
also can reduce public interest to use their private transport, so we
can reduce pollution and traffic jams. Simply with good public
transportation we can solve many problems and help our people.

Our railways now are mainly heritage from Dutch and Japan colonial
government. The first railway system in Indonesia 1680’s, the line
belonged to the Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij
(Netherlands East Indies Railway Company), and the first line in
operation was between Semarang and Tanggung, opened in August 10,
1867. (Krishnamurti, 2004) Then The Dutch Colonial government started
to build railways around Java to distribute agriculture and mining
products and for public transportation. The Dutch government also
involved some private company in built and operates the railway
system. Beside build railways they also make tramway in capital
cities, tramways were usually related to agricultural developments,
especially sugar plantations and factories, tobacco and rubber
plantations, and forestry. The lines also acted as feeder to the main
lines. These tramways were built according to certain standards,
allowing some exchange of rolling stock with the state railways, and
some lines were indeed later upgraded to main-line railway.

Sumatra had its first railway by 1876, a 4 km line between the port
of Ule Lhee and Banda Aceh (then Koetaradja), built for military
purposes. The Dutch colonial government starts to expand the railway
in other island since 1890’s, but it’s only a few, they mainly
built railways in Java. The Great Depression came in 1929, and the
economic difficulties that resulted caused the cancellation of
several projected extensions. The Second World War broke out in
September 1939, affecting the railways once again.

Japan invaded Netherlands East Indies in 1942, and occupied it,
taking two weeks to do so. The occupation resulted in the unification
of all railways in Java under the military administration (Rikuyu
Kyoku). The systems was then handed over to a Japanese civilian
administration, but were later administered by the military again in
the latter part of the war, the Sumatran lines were similarly
administered by the military occupiers. Under Japanese occupation,
further lines were pulled up, including the whole standard gauge
line, which was reengaged to 1067 mm. Many prisoners of war and
impressed locals (romusha) were forced to build new lines in
Japanese-occupied territories. During Japanese colonial era the lines
was only completed when the Japanese almost capitulated, and was
therefore never used.

With viewing that long history of our railways we can learn that
since the colonial era, government has already pay big attention in
iproving the railway system. In some case like in Linggarjati
Contract, they use railways to make demarcation lines since rail line
placed in certain ways that divide java and Sumatra into several
areas. From that we can guess that they have a long term plan in
developing railways.

Indonesia declared independence in August 17, 1945, and in September
28, 1945, the Japanese railway administration was forced to hand over
the railway to Indonesian freedom fighters, a day celebrated as Hari
Kereta Api. The railway lines in Java were administered as Djawatan
Kereta Api Repoeblik Indonesia, and those in South and West Sumatra
Kereta Api Negara Repoeblik Indonesia. In North Sumatra it was Kereta
Api Soematera Oetara Negara Repoeblik Indonesia. Then in 1963 all
railways unified under new administration of Perusahaan Negara Kereta
Api that later renamed into PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api).
(Saputro 135)

Indonesian government, however, find many difficulties to continue
the development of railways at early independent era until the end
1980’s. Tramways and many locomotives were abandoned since there no
funds for operation and spare parts. Then in 1991, PJKA was reformed
into Perumka (Perusahaan Umum Kereta Api). Under new management
Perumka has reached its big success, many new trains were operated
and Perumka able to make huge profit, their higher profit occurred on
1994 with 23.2 billion rupiahs.

After great depression in 1997 Perumka faced both difficulties and
opportunities. They got difficulties because high cost for operation
and maintain expenses, opportunities since increasing demand for
passenger trains because high price of airplane tickets.

Perumka’s management was further reformed in June 1, 1999, when it
was renamed PT (Persero) Kereta Api Indonesia. However, in the recent
years the Indonesian Railway has faced tough challenges. The
continuing economic crisis has resulted in a severe maintenance
backlog for the rolling stock and track work, and many trains were
running in less-than-top condition, or not running at all. Many
problems like railway’s safety record in the last years is not one to
be proud of, its passengers, especially commuters, demand greater
comfort and reliability, and the economic constraints have only made
the situation more difficult.

Then recently government willing to use IMF suggestion to privatize
many BUMN; for PT KAI they would not privatized it yet, they ill
privatize some other BUMN first then use the profit to funds PT KAI
and PT Garuda Indonesia and increase annual budget allocation (APBN).
But in 2008, government put PT KAI into the list of thirty four BUMN
that will be privatized. Many people include employers and worker of
PT KAI are not agree with this plan. They feel that this will hurt
them and poor people.

In my opinion privatization can help our country, especially if the
companies that will be privatized are unsuccessful companies that
only give burden to our government. Many companies that unsuccessful
take many of our budgets just to help them to run their operation
without give any profits to our country. For those companies, we can
fix them a little then privatized them for better business and
productivity. Moreover companies that not linked to people’s life
like the glass company in Surabaya can be easily privatized.
Companies that affect directly to people’s life like electricity,
fuel, food, and transportation should got special attention from
government since those sectors are part government responsibility
towards the people.

Chairman of PT KAI Ronny Wahyudi in an interview with Sinar Harapan
stated, “If we built toll road, increase cars, how much the
subsidies will spent for the people?” He also added that train is
the solution for traffic jams problem in this country. (Piri 2008)

In order to make train and railways a better transportation system we
need to make revitalization on PT KAI, we need to make reconstruction
first on PT KAI management to create more effective system within the
company then we can develop the infrastructure. To do those things
our government minimal has to allocate around 20 billion Rupiahs a
year, an amount that impossible for our APBN. So if we still want to
make our railways transportation better, we have to privatize PT KAI.

Improvement on infrastructure should start with increasing train
coach especially in Jabodetabek since around 70 to 80 percents train
passengers are came from that area. (Vltchek 2007) This increasing
done to improve the service since we know that many train passengers
are commuters. Moreover we also have to increase the security in
train station and train, because commuters and other crimes happen
because lack of security and indiscipline security staffs within PT
KAI. Step by step we can also develop online ticketing to improve the
service and make access to train easier.

We can develop train for public transportation that can support
people for both long and short distance trip. For example, people in
Bandung or Bogor can use train to go to their work place in Jakarta
rather than use their private cars and trapped in traffic jam. But
once again, to make train as chosen transportation we have to make
reconstruction like make railways from train station into airport.

But our government has to remember that transportation is a sector
that will affect directly towards people and our economy. Government
have to make clear regulation and term of stock selling to make sure
that we wont get loss from privatize our BUMN. In PT KAI case,
government has to make reconstruction within the company first to
make the company better. This done to attract investor and to make
sure that after being privatized PT KAI will work effectively to
serve our people.

Later there were big strike of PT KAI employees to protest again
privatization and outsourcing within the company. Many employees in
PT KAI are outsourced from Koperasi Wahana Usaha Jabotabek
(KOWASJAB); they also get higher salaries from PT KAI employees. This
hurt the employees and against UU Ketenaga kerjaan No 13/2003.
Government should pay more attention and provide the worker welfare.

Once again, railways are a very strategic sector to improve for
support our economic growth. Railways can be a good transportation
both for people and logistics. Then privatization has to done
carefully to help PT KAI in improving both its management and
infrastructure. Public transport is a sector that affect directly on
people’s life, so this is our government responsibility to provide
a good transportation system. If government does not have any funds,
privatization is one of the ways to get funds and improve government
services for the people. Government have to make clear regulation of
privatization, not like what happen in our air transportation
industry; when its privatized competition on low price happen caused
low safety and quality. Hopefully with privatization and good
regulation that can applied well we can have a good transportation
system and create social welfare and support our economics growth.

 

References

Aliansi Buruh Menggugat. “Lawan Penjajahan Bentuk Baru: Tolak
Swastanisasi / Privatisasi PT Kereta Api Indonesia.” Prakarsa
Rakyat
30 March 2008. 24 May 2008

<http://www.prakarsa-rakyat.org/artikel/urgent/artikel.php?aid=26203>

International Labour Office. “Report for discussion at the
Tripartite Meeting on Managing the Privatization and Restructuring of
Public Utilities.” International Labour Organization official
site
28 September 2006. 23 May2008.

<www.ilo.org/public/english/
dialogue/sector/techmeet/tmpu99/index.htm>

“Menhub Pertegas Ruang Investasi Bagi
Perusahaan Swasta.”
Departemen Perhubungan Indonesia
17April 2009. 26 May 2008

<http://www.dephub.go.id/in/index2.php?module=news&act=view&id=NDEy>

Krishnamurti, Indra. “History of Railways in Indonesia”
tripod.com 9 December 2004. 19 May 2008

<http://members.tripod.com/~keretapi/history.html>

Kwak, Young Han. “Analyzing Asian
Infrastructure Development Privatization Market.” Journal of
Construction Engineering and Management
2(2002): 111-116

Piri, Ellen. “Direktur Utama PT Kereta Api, Ronny Wahyudi. Kembali
ke Bisnis Inti.” Sinar Harapan on the Web 7April 2008. 21
May 2008.

<
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0804/07/eko06.html>

“Private Provision of Infrastructure Technical Assistance in
Ministry of Transportation (PPITA-MOT) Request for Expression of
Interest (EOI).” Departemen Perhubungan Indonesia 2 December
2007. 24 May 2008

<www.dephub.go.id/admin/modules/Upload_File/files/DraftIklanMoT07Dec2007.pdf
>

“Privatisasi Bisa Memenuhi Standar Minimal Pelayanan”. Kabar
UGM online
31 March 2008. 26 May 2008.

<http://www.ugm.ac.id/index.php?page=headline&artikel=8>

Rachbini, Didik J. “APBN Kritis, Perlu Solusi.” Opini Bebas
Indonesia
23 April 2008. 25 May 2008

<http://opinibebas.epajak.org/ekonomi/apbn-kritis-perlu-solusi-662/trackback/>

Sadka, Efraim. “Public-Private Partnership: A Public Economic
Perspective.” CESifo Economic Studies 53 (2007):  466–490

Saputro, Soemino Eka. Kebijakan Perkereta Apian Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama 2008

“The Politics of Privatization of the State
Owned Enterprises in Indonesia”.
iNUSANTARA
networks
31 August 2008. 26 May
2008.

<http://www.inusantara.com.sg/inusantara/perspectives/pdf>

Vltchek, Andre.  “Jakarta: In Dire Need of Improvement”
Worldpress.org 26 July 2007. 20 May 2008.

<
http://www.worldpress.org/Asia/2875.cfm>

Bookmark and Share

10110000001

10110000001

one(zero)one(one)zero(zero)zero(zero)zero(zero)one

No more aggression
No more initiative
No more suppression
No more emotions
No more resection
No more of all the feelings that shaped our hearts and made us who we are
No more possessions
No more suspicious
No more obsessions
No more sensations
No more depression
No more of all the passions that shaped our hearts and made us who we are

Longing, hoping, waiting, for no one
Forever we try, forever we die, forever, forever

10110000001
Become the catalyst

No need to feel at all
Just fell…love

Bookmark and Share

One Impossible thing for God

Only one thing is impossible for God: To find any sense in any copyright law on the planet.

Those craps doesnt make any sense!

lately those pigs (INA gov) ask all of internet provider to close acces to some site

In the Name of Anti-pornography, Morality, & Copyrights Shit

Whatever those Gov said, they still cant protect copyright of artworks they just askin for tax

Hue What Moral they mean they just group of fuckin snorkel corrupt maggot

This moment I just try to acces some porn site, youtube, and myspce and I made it

Hue, their policy isn’t work well

never work well

Bookmark and Share

Suara dari Rumah Bambu

Suara dari kampung adalah suara kehidupan. Suara-suara itu senantiasa berebut ruang untuk didengarkan. Namun, ruang publik selalu disempitkan dan riwayat sehari-hari seperti basi di ruang-ruang perundingan, di mana kehidupan menjadi pertaruhan.

Waktu saya kecil, Pulau Tebua Tarawa masih penuh ditumbuhi pohon kelapa. Tapi, kini kelapa telah hilang dan pulau itu telah terendam air laut,” kata Fiu Alisara, wakil dari masyarakat Kepulauan Samoa, Pasifik

Pulau-pulau di Pasifik rata-rata tingginya hanya sekitar dua meter dari permukaan laut (dpl), misalnya Tuvalu yang berketinggian 1,83 meter dpl. Sementara itu, badai makin sering terjadi dengan ketinggian sering kali lebih dari dua meter.

Pulau-pulau kami mulai tenggelam. Air tanah tercampur air asin, terumbu karang tempat kami mencari ikan telah memutih dan mati. Sekitar 178.000 penduduk di Samoa kini terancam hidupnya. Apakah ini adil, sementara yang mengeluarkan emisi adalah negara-negara maju, yang tak mengalami dampak separah kami? Kami memiliki hak yang sama untuk hidup dengan warga negara mana pun di muka Bumi, kata Fiu.

Fiu mengeluhkan pemerintahnya, yang hanya melihat ancaman itu dalam kerangka perdagangan karbon. Tak ada tindakan berarti, tetapi pemerintah berlomba-lomba membuat program baru untuk meraih dana, kata dia.

Halaman rumah

Suara Fiu terdengar di antara gerimis yang membasahi gubuk bambu beratap rumbia di Kampung Forum Masyarakat Sipil (CSF). Lokasinya tak jauh, hanya sekitar 10 menit jalan kaki dari The Westin Resort di Nusa Dua, tempat para juru runding dari berbagai negara mulai bersidang dalam konferensi tentang perubahan iklim. Namun, suasananya sungguh berbeda. Jika di The Westin Resort dibutuhkan pendingin berkapasitas 5 PK setiap 100 meter dari 5.000 meter luas area konferensi, di Kampung CSF pembicaraan berlangsung di ruang terbuka. Panas dan lembab.

Namun, tempat itu merupakan oase bagi kelompok masyarakat sipil yang tak memiliki akses ke ruang sidang. Di tempat itu mereka berbagi pengalaman dengan saudara-saudaranya dari negara lain yang mengalami dampak kebijakan pembangunan yang diperparah oleh perubahan iklim. Dampak itu sudah sampai di depan halaman rumah mereka.

Masyarakat kami selama beribu-ribu tahun bisa mengelola hutan. Tetapi, dengan masuknya perusahaan-perusahaan besar yang membawa teknologi maju, hutan kami habis hanya dalam 50 tahun, kata Alfred Ilenre dari Delta Niger, Nigeria.

Alfred mengisahkan masyarakatnya yang kian terpuruk dalam kemiskinan akut. Hutan kami dihancurkan untuk menopang gaya hidup dari sedikit orang, tetapi ketika iklim berubah, kenapa kami sekarang yang disuruh menanggungnya? kata Alfred.

Alfred juga berbicara tentang gaya hidup modern yang boros bahan bakar dan keserakahan perusahaan-perusahaan besar dalam mengekstraksi sumber daya alam di kampungnya. Kami diajarkan untuk mengambil sedikit mungkin dari alam. Tapi, gaya hidup modern terlalu serakah dan mau menghabiskan apa pun yang ada dalam perut Bumi, kata Alfred.

Diskriminatif

Dampak perubahan iklim memang sangat diskriminatif. Laporan Pembangunan Manusia (HDR) 2007 mencatat, jejak kaki (baca: emisi CO2 yang dihasilkan dari gaya hidup) penduduk Inggris yang sekitar 60 juta jauh lebih dalam di atmosfer dibandingkan dengan jejak kaki penduduk Mesir, Nigeria, Pakistan, dan Vietnam, yang seluruhnya berjumlah 472 juta orang.

Jejak kaki di atmosfer dari 19 juta orang di New York jauh lebih dalam dibandingkan dengan jejak kaki 766 juta orang di 50 negara kurang berkembang. Namun, orang miskin dan termiskin di negara berkembang yang harus menanggung dampaknya.

Felicita dari Meksiko memaparkan persekutuan pemerintah negaranya dengan perusahaan-perusahaan besar dalam mengekstraksi hutan dan lingkungan. Orang-orang dari negara maju dan sejumlah pengusaha lokal datang ke kampung, menyulap hutan menjadi ladang jagung dan tebu, yang sebagian besar digunakan oleh industri biofuel. Mereka terusir dari kampung sendiri.

Sementara itu, iklim semakin sering mengirimkan banjir dan badai. Sedikit orang yang ingin menikmati kemewahan dengan menghancurkan bumi. Tapi, orang-orang asli seperti kami yang terkena dampak paling besar. Ini ketidakadilan yang nyata, kata dia.

Kisah serupa disampaikan wakil masyarakat lokal dari Indonesia.

Mohammad Erwanik dari Perigi Talang Nangkan, Ogan Komering Hilir, Sumatera Selatan, memaparkan ekstraksi perkebunan sawit yang telah membuat masyarakatnya kian terpinggirkan. Perkebunan kelapa sawit telah menutup akses masyarakat kami untuk mencari penghidupan dari hutan, kata Erwanik.

Alex Sanggenafa dari Seruai, Papua, mengisahkan tanah-tanah di Papua yang dikapling-kapling oleh perusahaan tambang dan pengusaha HPH. Ini membuat rakyat Papua miskin di tanahnya sendiri yang kaya.

Semut pun bisa menggigit ketika diinjak gajah. Elliza Kiesya, Kepala Adat (Kewang) dari Kepulauan Haruku, Maluku Utara, menceritakan perlawanan masyarakatnya terhadap perusahaan tambang yang mengeksplorasi kampungnya sejak 1999. Pulau kami begitu kecil, apakah harus ditambang? Mau dipindahkan ke mana warga kami? gugat Elliza.

Suara dari rumah bambu, suara kehidupan, menguap diterbangkan angin sebelum menyentuh meja perundingan. Selalu demikian berulang….

Ahmad Arif dan Maria Hartiningsih
Kompas 5/12/2007

Bookmark and Share

Uang Vs Tuhan

Saat ini dunia berada dalam zaman Moneytic.

Bila ada evolusi manusia yang sempat terekam dari awal oleh sejarah, salah satunya dan yang paling menakjubkan adalah ide penciptaan uang. Awalnya uang diciptakan untuk memudahkan transaksi(dibanding sistem barter), uang dijadikan sebuah takaran untuk menentukan nilai suatu komoditi, yang sulit dilakukan dengan sistem barter. Uang dijadikan suatu sarana sosialisasi manusia untuk memenuhi kebutuhan2nya.

Uang sebagai sebuah ide telah berevolusi dengan sangat hebat. Konsep uang terus berkembang dari hari ke hari. Terus menyebar, berkembang dan menunjukkan dominasinya. Uang sudah begitu universal, menyaingi musik atau matematik.

Uang sudah menjadi konteks besar yang tak terelakkan, uang hadir dalam berbagai macam format: koin, kertas, saham, valas, e-gold, logam mulia, tanah, hutan,…….

Dollar, Rupiah, Rupee, Bath, Poundsterling, Yen, Euro, Franc, dan masih banyak lagi….layaknya dewa2 di Olympia atau di Yygdrasil banyak intrik, perang and usaha saling menghancurkan guna membuktikan siapa yang paling kuat. Perang mereka lebih dahsyat dari Ragnarok atau bahkan Armageddon, banyak yang menderita…mereka dewa2 yang menggerakkan dunia dan mempengaruhi pikiran manusia…

Orang mulai delusif, menganggap bisa mendapatkan semuanya dengan uang bahkan mengira bisa membeli sesuatu yang tidak dijual sekalipun. Hmm….namun memang sih manusia mulai menganggap apapun yang ada disekelilingnya atau yang dimilikinya sebagai barang dagangan: tubuh, ide, citra, imaji, pikiran, wah banyak lah.

Dunia semakin mahal. Segala sesuatu telah menjadi bisnis, pendidikan, politik, pers dan media, seni, hiburan, kesehatan,dll.

Ugh… hampir semua aspek kehidupan ujung-unjungnya uang, apapun yang dilakukan sebisa mungkin bisa menghasilkan uang. Segala cara dilakukan untuk mendapatkan uang. Untung rugi menggantikan halal dan haram.

Jika ada banyak komunis Tuhan maka di dunia ini hamper tak ada komunis uang.

Apakah uang telah mengalahkan Tuhan?

Bookmark and Share